Samudera Ilmu Institut

  Pelatihan Guru, Training Pendidikan, Konsultasi Pendidikan

Kegunaan Metanol

Kegunaan Metanol

Permasalahan bahan aditif pada bensin menimbulkan pencemaran lingkungan. Alternatif pemecahan yang digunakan mengatasi aditif yang ramah lingkungan dan menaikkan angka oktan untuk menyempurnakan pembakaran yaitu metanol. Metanol memiliki angka oktan yang tinggi dan mudah didapat dan penggunaannya sebagai bahan bakar tidak menimbulkan pencemaran udara. Rentangan titik didih senyawa bensin antara 40°C sampai 220°C yang terdiri dari senyawa karbon C5 sampai C12. Bensin tersebut berasal dari berbagai jenis minyak mentah yang diolah melalui proses yang berbeda-beda baik secara distilasi langsung maupun dari hasil pengretakan (cracking), reformasi, alkilasi dan empat isomerisasi (http://www.chemeng.ui.ac.id). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa komposisi kimia bensin terdiri dari senyawa hidrokarbon tak jenuh (olefin), hidrokarbon jenuh (parafin) dan hidrokarbon siklik atau hidrokarbon aromatik.

Karakteristik utama yang diperlukan dalam bensin adalah sifat pembakarannya. Sifat pembakaran ini biasanya diukur dengan angka oktan. Angka oktan merupakan ukuran kecenderungan bensin untuk mengalami pembakaran tidak normal yang timbul sebagai ketukan mesin. Semakin tinggi angka oktan suatu bahan bakar, semakin berkurang kecenderungannya untuk mengalami ketukan dan semakin tinggi kemampuannya untuk digunakan pada rasio kompresi tinggi tanpa mengalami ketukan. Semakin tinggi berat jenis suatu bahan, maka semakin tinggi titik didih bahan tersebut, dan semakin sulit menjadi uap. Tentunya menjadi semakin sulit bereaksi dengan oksigen, dalam arti memerlukan suhu lingkungan yang tinggi untuk terjadi campuran gas dengan oksigen

Metanol memiliki satu gugus OH dalam molekulnya. Oksigen yang inheren di dalam molekul metanol tersebut membantu penyempurnaan pembakaran antara campuran udara-bahan bakar di dalam silinder. Tentunya metanol menjadi mudah bereaksi dengan oksigen, dalam arti memerlukan suhu lingkungan yang rendah untuk terjadi campuran gas dengan oksigen. Campuran gas ini biasa disebut mixture. Metanol juga memiliki panas penguapan (heat of vaporibahanion) yang tinggi, yakni 842 KJ/Kg (http://www.bppt.go.id). Titik didih metanol sekitar 690 C dan metanol memiliki satu gugus OH dalam molekulnya (http://www.chemeng.ui.ac.id).

 Oksigen yang inheren di dalam molekul metanol tersebut membantu mempercepat pembakaran antara campuran udara dengan bahan bakar di dalam silinder. Tentunya metanol menjadi mudah bereaksi dengan oksigen, sehingga memerlukan suhu lingkungan yang rendah untuk terjadi pembakaran. Bensin yang diuapkan biasanya meninggalkan sisa berbentuk getah padat yang melekat pada permukaan saluran dan bagian-bagian mesin. Apabila pengendapan getah ini terlalu banyak, kemulusan operasi mesin dapat terganggu. Pendeknya rantai atom karbon pada metanol menyebabkan emisi UHC pada pembakaran metanol relatif lebih rendah dibandingkan dengan bensin, yakni berselisih hingga 130 ppm (http://www.bppt.go.id).

Pada bahan bakar metanol hasil pembakarannya diubah dalam bentuk CO2. Pada prinsipnya emisi CO2 yang dihasilkan pada pembakaran metanol juga akan dipergunakan oleh tumbuhan. Sehingga berbeda dengan bahan bakar fosil, pembakaran metanol tidak menciptakan sejumlah CO2 baru ke lingkungan. Dengan angka oktan yang tinggi menghasilkan pembakaran yang sempurna sehingga hasil gas buang pembakaran lebih bersih. Kendala dari penggunaan metanol sebagai bahan bakar karena harga metanol yang tinggi dan diperlukan modifikasi mesin kendaraan sehingga harus menyesuaikan dengan bahan bakar metanol.

Oleh karena itu, analogi dengan pembahasan diatas metanol dapat dijadikan bahan aditif pada bensin untuk menggantikan aditif seperti TEL, MTBE dan MMT. Dengan angka oktan metanol yang tinggi dihasilkan pembakaran yang sempurna, karekteristik metanol yang titik didih rendah menjadikan pembakaran lebih cepat dan sifat volatil yang rendah (berat molekul rendah) yang sulit menghasilkan getah dapat dijadikan bahan aditif pada bensin untuk menggantikan bahan aditif lain yang kurang efektif dan efisien. Aditif metanol tidak menghasilkan logam berat seperti timbal pada TEL, mangan pada MMT dan karsiogenik pada MTBE. Dari sifat metanol lebih sedikit dihasilkan gas CO yang bersifat racun karena pembakaran yang sempurna gas buang diubah menjadi  CO2 dan H2O

Pencampuran metanol pada bensin menyebabkan lebih ekonomis, bahan bakar yang terbuang lebih sedikit, dan tenaga mesin lebih baik, dibandingkan dengan bensin saja. Penggunaan bahan aditif metanol pada bensin merupakan adtitif yang ramah lingkungan. Metanol memiliki angka oktan yang tinggi dan mudah didapat dan penggunaannya sebagai bahan aditif bensin tidak menimbulkan pencemaran udara. Emisi gas buang yang ramah lingkungan membawa dampak kesehatan masyarakat baik. Untuk mengetahui keakuratan data di atas maka perlu diadakan penelitian yang lebih mendalam mengenai penggunaan metanol sebagai bahan aditif pada bensin sehingga diketahui kelayakannya sebagai bahan aditif.