Prinsip dan konsep Authentic leadership, Servant Leadership, Kharismatik Leadership, Narsistic Leadership, Ethical Leadership

Pendahuluan

Menurut stoner kepemimpinan adalah sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas. Ada tiga implikasi penting, pertama, kepemimpinan melibatkan orang lain ( bawahan atau pengikut ), kualitas seorang pemimpin ditentukan oleh bawahan dalam menerima pengarahan dari pemimpin. Kedua, kepemimpinan merupakan pembagian yang tidak seimbang diantara para pemimpin dan anggota kelompok. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan beberapa dari kegiatan anggota kelompok dan sebaliknya anggota kelompok atau bawahan secara tidak langsung mengarahkan kegiatan pimpinan. Ketiga kepemimpinan disamping dapat mempengaruhi bawahan juga mempunyai pengaruh. Dengan kata lain seorang pimpinan tidak dapat mengatakan kepada bawahan apa yang harus dikerjakan tapi juga mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintah pemimpin.

Teori perilaku kepemimpinan (behavioral theory of leadership)  didasari pada keyakinan bahwa pemimpin yang hebat merupakan hasil bentukan atau dapat dibentuk, bukan dilahirkan (leader aremade, nor born). Berakar pada teori behaviorisme, teori kepemimpinan ini berfokus pada tindakan pemimpin, bukan pada kualitas mental atau internal. Konsep ini muncul dengan mengasumsikan bahwa sifat kepemimpinan tidak akan bisa menghasilkan kepemimpinan yang efektif, hal ini karena ada factor yang sangat sulit yaitu mengidentifikasi sifat. Pendekatan perilaku ini memandang bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku.

Authentic leadership:

  • Seorang pemimpin harus tercermin dalam perilaku dan aktualisasi keseharian “jujur” di mulai dari diri sendiri sebelum jujur kepada orang lain dimana yang ditekankan: nilai, moral, etika, visi, misi dan karakter.
  • Integritas yang di bangun dalam konsep kepemimpinan ini yang paling nyata adalah apa yang di katakana itulah yang dilakukan. Pengalaman yang didapat dijadikan alat untuk membentuk dan memperkuat keautentikan.
  • Konsistensi yang tampak dalam sosok ini ialah jiwa kedisiplinan didrinya terhadap nilai, prinsip, etika, moral serta keterbukaan terhadap orang yang dipimpin maupun lingkungan akan memberikan efek yang dapat saling mempengaruhi menuju segala sesuatu yang positif.

Servant Leadership:

Adalah salah satu konsep kepemimpinan yang didasarkan pada kemamuan untuk melayani, kelebihan dari konsep ini salah satunya berorientasi pada sifat melayani dengan standar moral spiritual. Pemimpin seperti ini memiliki tanggung jawab tinggi melayani kepentingan pengikutnya untuk bisa menjadi sejahtera. Sebaliknya hal ini mengakibatkan para pengikut memberikan komitmen penuh dalam bekerja untuk dalam mencapain tujuan organisasi dan keberhasilan pemimpin. Setiap konsep ini sangat cocok dalam berbagai bidang profesi,  organisasi, lembaga, perusahaan (bisnis) dan pemerintahan karena kepelayanan bersifat universal.

Kharismatik Leadership:

  • Pemimpin kharismatik merupakan sebuah fenomena sosial terjadi pada waktu kebutuhan kuat muncul dari legitimasi otoritas. Dalam kondisi hal ini yang menjadi barometer kebenaran kharisma adalah pengakuan pengikutnya.
  • Secara umum kepimpinan kharismatik muncul disaat-saat krisis sebuah organisasi/lingkungan, termasuk juga krisis kepemimpinan. Dengan adanya kondisi hal ini, yang terjadi dengan adanya kharisma sebuah pemimpin dapat memberikan sesuatu yang beda dari sebelum.
  • Salah satu kelemahan dalam model kepemimpinan seperti ini adalah adanya parodoks kharisma yaitu bahwa dalam bertindak sebagai salah satu sumber perubahan sosial, ia sangat mudah untuk merebut hati, namun sebaliknya ia pun akan gampang dicemoohkan oleh karena kelompok-kelompok sosial pendukungnya menganggap pesan kharismatik tersebut selalu bersangkut paut dengan situasi kebutuhan-kebuthan material dan idealnya.

Narsistic Leadership:

  • Narcissistic leader konsep ini mengenalkan bahwa seorang pemimpin adalah orang yang haus akan capaian cita-catanya yang haus akan capaian yang extraordinary. Pemimpin model seperi ini adalah seorang  risk-taker yang sangat berani dan tak gentar mengambil keputusan yang seringkali menyakitkan dan tidak popular.
  • Salah satu ciri khusus seorang pemimpin dengan model seperti ini adalah dicintai dan menjadi inspirasi bagi para follower-nya karena karakternya yang keras, tak kenal kompromi, hypercompetitive, penuh passion, dan memiliki energi berlebih.

Ethical Leadership

  • Ethical Leadership atau Kepemimpinan Etis dilatarbelakang Oleh adanya pemikiran bahwa esensi dari kepemimpinan adalah pengaruh, sehingga para pemimpin yang berkuasa, apakah dapat menjalankan kekuasaan dan kepemimpinannya dengan bijaksana dan baik.

Ada beberapa komponen penting dari kepemimpinan etis, diantaranya :

  • Kemampuan untuk mengesampingkan ego Anda dan kepentingan pribadi demi kebutuhan orang-orang yang Anda layani, dan / atau kebaikan masyarakat atau dunia.
  • Kemauan untuk mendorong dan mengambil serius umpan balik, pendapat yang berbeda dari Anda sendiri, dan tantangan untuk ide-ide dan tindakan yang diusulkan.
  • Dorongan kepemimpinan pada orang lain.
  • Membuat pertimbangan dan pembahasan etika dan pertanyaan etika dan isu-isu bagian dari budaya kelompok, organisasi, atau inisiatif.
  • Menerima tanggung jawab dan menjadi akuntabel.

Kesimpulan

  • Ada banyak teori kepemimpinan, tetapi yang paling baik diteliti adalah konsep kepemimpinan transformasional. Sementara gaya kepemimpinan telah dikaitkan dengan manfaat yang signifikan bagi organisasi, jelas bahwa hal itu tidak akan cocok untuk semua keadaan. Dalam beberapa kasus, para pemimpin tidak diperlukan sama sekali dan kepemimpinan pengganti bisa sama-sama efektif. Untuk beberapa studi kepemimpinan telah datang lingkaran penuh dalam pencarian faktor yang membuat seorang pemimpin yang efektif. Penelitian terbaru telah ditinjau kembali peran karakteristik individu dalam kepemimpinan dan menekankan konsep ‘kecerdasan emosional’, yaitu, kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain. Sementara ada perdebatan mengenai definisi dan pengukuran kecerdasan emosional, dapat dikatakan bahwa ini merupakan salah satu aspek dari penelitian kepemimpinan masa depan (Brown & Moshavi, 2005).
  • Hal ini juga kemungkinan bahwa para peneliti di masa depan akan fokus pada mengintegrasikan penelitian kepemimpinan yang ada dalam model menyeluruh efektivitas pemimpin. Penelitian lebih lanjut, khususnya, perlu difokuskan pada pemahaman bagaimana pengembangan kepemimpinan dapat dikelola dan ditingkatkan melalui intervensi. Ini adalah area di mana psikolog kerja yang mungkin terlibat.

 

Share this post

Post Comment